i sebuah sekolah SD, terdapatlah seorang murid yang menunggu kehadiran seseorang untuk menjemputnya pulang. Ia bernama Rara. Umurnya baru 8 tahun. Kemudian ia didatangi seorang temannya yang bernama Mayang, sambil membawa sebuah kado berwarna merah muda. Sambil menepuk pundak Rara, iapun menyapa Rara.
“Rara, kamu belum pulang? Oya, selamat ulang tahun ya..”. Ini kado dariku. Ujar Mayang. Dengan senangnya Rara menerima kado itu. Ia tersenyum lebar dan berkata, “terimakasih Mayang, kamu baik sekali”. Tak lama kemudian, datanglah mama Rara yang melambaikan tangannya dari luar pagar sekolah. Kemudian Rara langsung berlari menuju mobil sang mama.
S
etelah Rara duduk manis di kursi depan bersama mamanya, ia segera menceritakan tentang apa yang ia dapat hari ini. “Mama, aku punya kado dari Mayang. Aku seneeeeng banget, ta..taapp….tapppii….” sejenak pembicaraan Rara terhenti. Ia langsung menatap kado yang ia dapat dari sahabatnya.
“Tapi kenapa dek?’ Tanya sang mama.” Aku lebih senang punya mama”. Ujar Rara sambil menatap wajah mamanya. Mamanya terkejut. Ia terheran. “Kok …lebih senang punya mama??...”.”Karena mama setiap hari jemput aku saat pulang sekolah…”. Aku tahu mama kecapean. Oya ma, tadi ada pelajaran menggabar. Dan… ini, gambar untuk mama. Sejenak kemudian sang mama tetegun dan akhirnya menangis. Melihat gambar Rara, ia langsung memeluk Rara. “Mama juga bangga mempunyai anak perempuat yang sholehah dan cerdas seperti kamu. Dan mama memang capek, tapi untuk menjemput kamu pulang, apa sih Ra… yang capek???”, ujar mama sambil mengusap air matanya.
M
ama berniat untuk menaruh gambar tersebut di depan pintu kulkas. Karena menurut mama,gambar itu sangat berarti. Gambar Rara memang terlalu bagus, namun karena gambar tersebut karena tertera judul yang menyadarkan mama “Mom, My Hero” dan isinya tentang seorang ibu yang sedang menunggu anaknya keluar dari sekolah dengan keringat yang bercucuran.
S
Radiva's Group
eorang anak pasti pasti tahu bahwa seberapa lelah ibunya bekerja, namun mereka tetap orang tua yang mengandung kita, melahirkan, merawat dan menjaganya di saat bayi hingga kini dewasa. Meskipun terkadang mereka berpikir kesal sekali ketika ada seorang ibu yang bekerja di luar kota beberapa lama sehingga tak ada waktu untuk selalu berbagi rasa dengan sang ibu. Namun aku sadar bahwa salah satu cara inilah yang dilakukannya untukku, dan itulah sebuah pengorbanan. Ibu kita memang lelah dan penat tapi bukan karena sering berjalan atau yang lain tentang fisik, melainkan lelah karena merindukan anaknya. Inilah bagian dari kerja keras ibu kita. Dan, ketika inilah ibu kita pantas untuk disebut “Pahlawan”.