Kamis, 04 November 2010

Pahlawan




Bukan hanya yang berjuang
Not only fighting
Bukan hanya yang anti kejahatan
Not only anti-crime
Tapi semua orang yang berjasa
But for all people have some merits
Guru, kuli bangunan, dan pemulung dan orang berjasa
Teacher, builder, and trash putter and merit people
Bukan hanya dengan darah
Not only with blood
Bukan hanya dengan senjata
Not only with weapon
Tapi juga dengan kasih sayang
But with love too
Iqbal's Group
Bapak, ibu, kakek, nenek
Father, mother, grandfather, grandmother
Bukan hanya dengan kekuatan
Not only with strength
Bukan hanya dengan keberanian
Not only with brave
Tapi juga dengan ketulusan
But with honesty too
Dokter, suster, tapi dengan tulus
Doctor, nurse, with honest
Pahlawan bukan hanya untuk pejuang di medan perang
A hero is not only to figh in a battle field

Created By:
Iqbal Aulia Rachman (7-Uhud)

Pahlawan Cintaku

Dia… Dia…
Dia anggap diriku layaknya selembar kertas putih
Dilukisnya warna-warni kehidupan
Putih… layanya diriku yang masih suci
Emas… berharap diriku bersinar terang
Merah… berharap diriku mempunyai semangat yang membara
Dia… Dia…
Dia pahlawan cintaku
Dia yang telah membuatku mengerti bahwa hidup untuk dijalani
Dia yang telah mengalunkan melodi-melodi cintanya untukku
Nada-nada dalam alunan cintanya tak kan pernah luput dari bayang
Dia… Dia…
Yang selalu membuatku tak kan pernah lelah mencari jati diri
Aku tak dapat tersenyum
Karena senyumku hanyalah milikNya
Aku tak dapat menangis
Karena air mataku juga milikNya
Tapi aku hanya bisa meminta
Jagalah pahlawan cintaku
Venty Ryanty
                                        Mama, Papa, Guru, Sobat cintaku…





                              Created By:
                             Venty FajRyanty (7-Uhud)

Mom: My Hero


Mom:  My Hero
D
i sebuah sekolah SD, terdapatlah seorang murid yang menunggu kehadiran seseorang untuk menjemputnya pulang. Ia bernama Rara. Umurnya baru 8 tahun. Kemudian ia didatangi seorang temannya yang bernama Mayang, sambil membawa sebuah kado berwarna merah muda. Sambil menepuk pundak Rara, iapun menyapa Rara.
“Rara, kamu belum pulang? Oya, selamat ulang tahun ya..”. Ini kado dariku. Ujar Mayang. Dengan senangnya Rara menerima kado itu. Ia tersenyum lebar dan berkata, “terimakasih Mayang, kamu baik sekali”. Tak lama kemudian, datanglah mama Rara yang melambaikan tangannya dari luar pagar sekolah. Kemudian Rara langsung berlari menuju mobil sang mama.
S
etelah Rara duduk manis di kursi depan bersama mamanya, ia segera menceritakan tentang apa yang ia dapat hari ini. “Mama, aku punya kado dari Mayang. Aku seneeeeng banget, ta..taapp….tapppii….” sejenak pembicaraan Rara terhenti. Ia langsung menatap kado yang ia dapat dari sahabatnya.
“Tapi kenapa dek?’ Tanya sang mama.” Aku lebih senang punya mama”. Ujar Rara sambil menatap wajah mamanya. Mamanya terkejut. Ia terheran. “Kok …lebih senang punya mama??...”.”Karena mama setiap hari jemput  aku saat pulang sekolah…”. Aku tahu mama kecapean. Oya ma, tadi ada pelajaran menggabar. Dan… ini, gambar untuk mama. Sejenak kemudian sang mama tetegun dan akhirnya menangis. Melihat gambar Rara, ia langsung memeluk Rara. “Mama juga bangga mempunyai anak perempuat yang sholehah dan cerdas seperti kamu. Dan mama memang capek, tapi untuk menjemput kamu pulang, apa sih Ra… yang capek???”, ujar  mama sambil mengusap air matanya.
M
ama berniat untuk menaruh gambar tersebut di depan pintu kulkas. Karena menurut mama,gambar itu sangat berarti. Gambar Rara memang terlalu bagus, namun karena gambar tersebut karena tertera judul yang menyadarkan mama “Mom, My Hero” dan isinya tentang seorang ibu yang sedang menunggu anaknya keluar dari sekolah dengan keringat yang bercucuran.
S
Radiva's Group
eorang anak pasti pasti tahu bahwa seberapa lelah ibunya bekerja, namun mereka tetap orang tua yang mengandung kita, melahirkan, merawat dan menjaganya di saat bayi hingga kini dewasa. Meskipun terkadang mereka berpikir kesal sekali ketika ada seorang ibu yang bekerja di luar kota beberapa lama sehingga tak ada waktu untuk selalu berbagi rasa dengan sang ibu. Namun aku sadar bahwa  salah satu cara inilah yang dilakukannya untukku, dan itulah sebuah pengorbanan. Ibu kita memang lelah dan penat tapi bukan karena sering berjalan atau yang lain tentang fisik, melainkan lelah karena merindukan anaknya. Inilah  bagian dari kerja keras ibu kita. Dan, ketika inilah ibu kita pantas untuk disebut “Pahlawan”.
       Saturday, October 30th 2001     
  By: Radiva (7 Badar)